Reba Ngada, Tradisi Menghormati Makanan Tradisional Uwi

0
54

  © Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Tiga Perempuan Langa, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Flores, NTT, Selasa (15/1/2019) sedang menghantar makanan tradisional Uwi kepada ribuan masyarakat yang ikut Ritual Reba. KOMPAS.com/MARKUS MAKUR

Tibalah mereka di Pulau Jawa, lalu bergerak menuju Bima, Sumba dan selanjutnya berlayar ke arah utara hingga tiba di suatu pelabuhan yang aman yakni Tiwa Lina-Lege Lapu-Wae Meze (daerah pesisir Aimere).

Selanjutnya mereka menyebar ke seluruh Ngada dengan cara masing-masing. Dalam pengembaraan, makanan penguat satu-satunya adalam ubi atau uwi. Ubi di potong-potong dan dibagi-bagikan sebagai simbol kerukunan, persatuan, persaudaraan dan perdamaian sejati diantara mereka.

“Riwayat pengembaraan leluhur orang Ngada diungkapkan dalam upacara Sui Uwi yakni ritual pemecahan ubi, yang meriwayatkan pengembaraan leluhur, sekaligus penegasan untuk hidup harus menaati amanat suci leluhur (lese dhe peda pawe atau po boro molo teta lema siza) yang harus menjadi panduan untuk dilaksanakan oleh generasi muda saat ini dan generasi mendatang,” kata Mikael.

Sekretaris Desa Beja, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Marselinus Paru kepada Kompas.com, Selasa (15/1/2019) menjelaskan, Uwi Reba merupakan tahun baru adat di kawasan Langa dengan melibatkan lima desa. Ritual Reba dilaksanakan setiap tahun. Reba diselenggarakan oleh masyarakat Kampung Kepo Wesu, Kampung Bonewaru dan Langa Keda.

“Reba itu pesta adat Langa atau pesta tahun baru adat dari masyarakat Langa. Saat Reba, uwi (ubi) itu dipuja-puja. Uwi merupakan makanan pokok leluhur orang Ngada. Pelaksanaan Reba tiap tanggal 15 Januari setiap tahun,” jelasnya.

Penulis: Kontributor Manggarai, Markus Makur

Editor: I Made Asdhiana

Copyright Kompas.com

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here