Reba Ngada, Tradisi Menghormati Makanan Tradisional Uwi

0
90
I Made Asdhiana

 © Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Kaum laki-laki Ngada ditugaskan untuk menyuguhkan tuak atau moke lokal untuk menggantikan minuman air setelah makan uwi (ubi) saat ritual Reba Ngada dilaksanakan di Kampung Langa, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Flores, NTT, Selasa (15/1/2019). KOMPAS.com/MARKUS MAKUR

“Jika wisatawan menginap di rumah penduduk maka pemilik rumah itu bisa jadi pemandu lokal di obyek wisata yang berada di sekitar perkampungan tersebut. Saya ajak masyarakat NTT untuk mulai menata kamar yang layak dan standar serta toiletnya bersih sesuai standar pariwisata. Ke depan, wisatawan serta pejabat NTT menginap di rumah penduduk dengan membayar sesuai harga hotel yang standar dan layak,” katanya.

Pua Geno mengatakan, jadikan pesta Reba menjadi ajang tahunan dengan dukungan APBD NTT. Tahun depan Reba harus lebih meriah di Kabupaten Ngada. Festival Reba harus menjadi agenda tingkat provinsi.

“Saya hadir sebagai Ketua DPRD NTT. Namun saya hadir juga sebagai keluarga Langa dan Ngada. Saya menyumbang Rp 10.000.000 untuk pesta Reba saat ini,” katanya.

Ketua Panitia Reba Langa 2019, Paskalis Lalu menjelaskan, Ritual Reba Uwi atau Sui Uwi merupakan tradisi menghormati makanan tradisional uwi yang diwariskan secara turun temurun oleh leluhur Ngada. Salah satu leluhur orang Ngada yang mewariskan Uwi Reba bernama Sili.

Jadi sejak leluhur orang Ngada berada di kawasan Ngada umumnya dan Langa khususnya menanam Uwi yang tumbuh liar di hutan. Saat itu leluhur orang Langa khususnya dan Ngada umumnya tidak mengenal tanaman padi. Bertahun-tahun nenek moyang orang Langa makan uwi sebagai makanan pokok dalam kehidupan keluarga.

Penulis: Kontributor Manggarai, Markus Makur

Editor: I Made Asdhiana

Copyright Kompas.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here