Bandung 29 Maret 2021, Guna menyambut musim tanam April – September (Asep) 2021, Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) mengadakan Workshop dan Perumusan Peramalan OPT Tanaman Pangan, kegiatan ini rutin dilakukan menjelang awal musim tanam, yang diadakan dan bekerjasama dengan seluruh Provinsi di Indonesia, serta melibatkan para petugas pertanian yang ada di daerah tujuannya tak lain adalah Sebagai bentuk kewaspadaan dan antisipasi akan serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan atau sering disingkat OPT.

Kegiatan ini bertajuk penyampaian informasi serta diskusi mengenai peramalan OPT yang dilaksanakan di Bandung selama 4 hari dari tanggal 28-31 Maret 2021, workshop di buka oleh Dr. Ir. Enie Tauruslina Amarullah, M.P. selaku Kepala Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan, dalam sambutannya Enie mengulas peran penting peramalan dalam proses pengambilan keputusan, sebab efektif atau tidaknya suatu keputusan umumnya tergantung pada beberapa faktor yang tidak dapat di lihat pada waktu keputusan itu diambil untuk itulah peramalan diadakan yang bertujuan untuk memperkecil resiko yang mungkin terjadi akibat suatu pengambilan keputusan, sehingga pengguna angka ramalan khususnya petani serta petugas lapangan bisa mewaspadai dan menekan kehilangan hasil akibat serangan OPT.

Dalam paparan lebih lanjut Enie menyampaikan ada 6 OPT utama pada tanaman padi, jagung dan kedelai yang harus diwaspadai, untuk tanaman padi OPT yaitu: Penggerek Batang Padi (71.532 ha), Tikus (67.768 ha), Wereng Batang Cokelat (55.227 ha),Blas (32.055 ha), Hawar Daun Bakteri (26.510 ha), Tungro (1.564 ha). sehingga total adalah 254.656 ha.

Untuk  OPT utama tanaman jagung yaitu Ulat grayak S. frugiperda (60.082 ha), Tikus (7.682 ha), Ulat grayak Spodoptera sp.(4.890 ha), Penggerek batang(3.051 ha), Penggerek tongkol (2.110 ha), Bulai (1.761 ha), Lalat bibit (989 ha), total adalah 80.565 ha

Sedangkan untuk tanaman Kedelai yaitu Ulat grayak (465 ha), Penggulung daun (151 ha), Penggerek polong (123 ha), Tikus (82 ha), Lalat kacang (35 ha), Ulat grayak Spodoptera sp. (24 ha), sehingga total 880 ha.

Senada dengan Enie, Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Dr. Ir. Mohammad Takdir Mulyadi, M.M mengatakan bahwa peramalan ini adalah sebuah metodologi ilmiah yang didasarkan dari data hasil input di lapangan, sehingga data yang valid menjadi dasar pengambilan kebijakan, dalam hal ini peran petugas pengelola data sangat menentukan terhadap kecepatan dan ketepatan data yang sampai ke pusat untuk selanjutnya diolah sesuai keperluan dan salah satunya adalah untuk keperluan peramalan

Pada kesempatan itu pula hadir perwakilan dari Pusat Data dan Informasi Kementan  (Pusdatin) yang menyampaikan informasi tentang kemudahan untuk mengakses informasi mengenai pertanian dan Peramalan, melalui aplikasi yang diberi nama Si-PERDITAN (Sistem Informasi Peringatan Dini dan Penanganan Dampak Perubahan Iklim Sektor Pertanian) untuk mengaksesnya kunjungi website http://sipetani.pertanian.go.id/siperditan/ atau https://bbpopt.id/index.php/peramalan/

Pada penghujung acara semua peserta berkomitmen untuk bersama-sama mengantisipasi serangan OPT yang diramalkan akan menyerang, dan menyampaikan informasi ini kepada para petani serta stakeholder yang ada di daerah, agar tercipta ketahanan pangan dan kesejahteraan bagi 270 juta rakyat Indonesia, seperti yang selama ini menjadi jargon menteri pertanian, semoga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here