Bali selain dikenal sebagai tujuan wisata, juga dikenal dengan keindahan terasering sawah-sawahnya yang bertingkat-tingkat, beserta tata kelola air dengan subaknya, namun bukan berarti tanpa permasalahan, Organisme Pengganggu Tumbuhan atau OPT masih menjadi kendala dalam peningkatan produksi di provinsi Bali, guna mewujudkan ketahanan pangan di pulau dewata itu, pada tanggal 15 September 2020, Kepala Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Enie Tauruslina mengadakan kunjungan guna memantau keberadaan OPT di lapangan, pada kesempatan itu Enie yang didampingi oleh Komang selaku tuan rumah sekaligus Kepala Balai Proteksi Tanaman pangan dan Hortikultura Bali berdialog dengan Kadek seorang penggagas penangkaran burung hantu yang juga merupakan ketua kelompok tani Umawali.

Kadek menuturkan hal ihwal munculnya ide tersebut, berawal tahun 2015 ketika itu terjadi pandemi serangan tikus, para petani di kabupaten tabanan mengeluh karena hasil panen mereka turun drastis, mereka sudah berupaya dengan berbagai cara, agar serangan tikus bisa dikendalikan, namun upaya itu belum berbuah hasil yang signifikan, sampai akhirnya terbersitlah ide untuk mengendalikan tikus dengan memanfaatkan musuh alaminya, yaitu burung hantu, maka diadakanlah proyek penangkaran dan konservasi burung hantu tersebut, harapan kadek beserta para petani untuk mengatasi serangan tikus di daerahnya akhirnya terwujud, dalam kurun waktu satu tahun permasalahan tikus sudah bisa dituntaskan.

Pada tahun 2017 Kadek mendapatkan bantuan dari pemerintah Bali, hal ini menjadi motivasi bagi kadek untuk bisa terus mengembangkan penangkaran dan konservasi burung hantu secara serius, kini ia juga mengadakan pemeliharaan terhadap burung hantu yang cacat, mengalami cedera , atau anak-anak burung hantu yang ditinggal oleh induk sebelum waktunya, setelah pulih atau dewasa baru dilakukan pelepasan ke alam bebas, pelepasan ini dilakukan bukan hanya di tabanan tapi di daerah dan kabupaten lainnya, sampai saat ini ia sudah melakukan 6 kali pelepasan, sedangkan untuk burung hantu yang cacat permanen ia jadikan sebagai indukan tetap.

Dua tahun berselang tepatnya pada tahun 2019 ia kembali mendapatkan bantuan lagi dari BPTPH dan kementerian pertanian, menurut Komang selaku kepala balai proteksi tanaman pangan dan hortikultura Bali, dalam 3 tahun terakhir ini serangan tikus masih mengkhawatirkan, ditambah  lagi dengan luasan wilayah sekitar 80.000 ha, hal ini menambah beban dalam upaya pengendaliannya, pemerintah perlu mengambil langkah yang tepat sesegera mungkin untuk mensuplai kebutuhan pangan 4,2 juta jiwa di provinsi bali dan agar ketahanan pangan di Bali tetap terjaga.

Komang bersyukur dan menyambut baik dengan adanya ide penangkaran burung hantu dari kelompok tani yang dipimpin oleh pak Kadek yang bisa menjadi salah satu solusi alternatif pengendalian tikus ramah lingkungan, ia berharap mesin produksi alam ini bisa bekerja dan memangsa tikus-tikus sehingga sawah-sawah petani menjadi terlindungi, ia juga mengucapkan terimakasih kepada direktorat perlindungan tanaman pangan yang pada tahun 2018 telah memberikan bantuan serta memfasilitasi sehingga pengembangan penangkaran burung hantu di provinsi Bali bisa terwujud.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here