Percepatan tanam terus dilakukan di berbagai daerah dengan memanfaatkan sisa air yang masih ada. Namun guna mengantisipasi kerusakan bahkan gagal panen, petani terus diajak untuk ikut Asuransi Usaha Tani Pertanian (AUTP).

“Kondisi alam tidak bisa kita tebak. Kita diprediksi akan segera memasuki musim kemarau panjang, tapi di beberapa daerah curah hujan masih sangat tinggi. Bahkan menyebabkan banjir yang juga merendam lahan-lahan pertanian. Kita tidak bisa mencegah, tapi bisa diantisipasi agar petani tidak mengalami kerugian. Caranya dengan mengikuti asuransi pertanian,” tutur Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, dalam setiap kesempatan. 

Menteri Syahrul menjelaskan Pemerintah melalui peraturan UU Nomor 19 Tahun 2013 mengamanatkan perlindungan usaha tani dalam bentuk asuransi.

Amanat tersebut sejauh ini sudah berjalan program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) dan Asuransi Usaha Ternak Sapi/Kerbau (AUTS/K).

Dalam pelaksanaannya, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Direktorat Pembiayaan Pertanian, menggandeng BUMN PT Jasindo sebagai penanggung jawab.

Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy, mengatakan asuransi membuat petani bisa menjalankan aktivitas tanpa khawatir adanya gangguan yang bisa menyebabkan gagal panen.

“Asuransi pertanian meng-cover kerugian akibat bencana alam seperti kekeringan atau pun banjir, juga akibat serangan hama dan lainnya. Asuransi sangat membantu petani, khususnya dalam masa peralihan cuaca. Karena kondisi seperti ini tidak bisa diprediksi,” tuturnya.

Dan agar tidak memberatkan petani, pelaksanaan asuransi pertanian dapat disinergikan dengan KUR. “Sinergi KUR dan asuransi ini akan membantu petani. Setiap petani yang mendapatkan pembiayaan KUR, harus mendaftar asuransi pertanian,” tambahnya.

Apabila usaha tani atau ternak mengalami gagal panen, petani akan mendapatkan penggantian atau klaim dari perusahaan asuransi. Sehingga, ada jaminan terhadap keberlangsungan usaha tani dan tidak terjadi gagal bayar terhadap kreditnya.

Untuk AUTP, premi yang harus dibayarkan sebesar Rp 180.000 /hektare (ha)/MT. Nilai pertanggungan sebesar Rp 6.000.000/Ha/MT. Asuransi ini memberikan perlindungan terhadap serangan hama penyakit, banjir, dan kekeringan (sumber : tabloidsinartani.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here