Sejak pertama sekali ditemukan di Sumatera Barat pada bulan Maret 2019 sampai bulan April 2020, serangan ulat grayak Spodoptera frugiperda pada jagung sudah menyebar di 32 provinsi yaitu Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Bangka Belitung, Palembang, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat. Penyebaran ulat grayak yang sangat cepat dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu ngengat mempunyai kemampuan terbang yang jauh, terbawa melalui alat transportasi dan keadaan iklim yang sesuai

Meluasnya serangan ulat grayak di seluruh Indonesia dapat menjadi ancaman terhadap produksi jagung. Dari beberapa survei lapang yang telah dilakukan oleh Tim Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan, tingkat kerusakan yang diakibatkan oleh ulat grayak S. frugiperda sangat bervariasi mulai dari serangan ringan sampai berat. Oleh karena itu, untuk mencegah terjadinya kehilangan hasil yang besar akibat serangan ulat grayak ini maka ada beberapa strategi pengendalian yang dapat dilakukan yaitu:

  • Penanaman secara serempak pada skala yang luas.

Hal ini bertujuan untuk mengatur agar ketersedian makanan ulat tidak senantiasa ada dan siklus perkembangan ulat grayak akan dapat ditekan. Di lapangan, tingkat serangan tinggi umumnya terjadi di lokasi pertanaman jagung yang terlambat tanam dari tanaman sekitar. Hal ini terjadi karena tanaman yang terlambat tanam memiliki umur yang masih muda dibandingkan sekitarnya dan menjadi sumber makanan

  • Pengolahan tanah yang tepat

Pengolahan tanan ini dilakukan untuk membunuh pupa yang masih berada di dalam tanah.

  • Pemupukan yang tepat dan berimbang

Tanaman jagung yang mendapatkan nutrisi yang baik akan dapat mentoleransi terjadinya kehilangan hasil akibat kerusakan daun yang ditimbulkan oleh ulat grayak. Penggunaan pupuk yang berimbang, penambangan bahan organik dan penanaman tanaman leguminosa dapat meningkatkan ketahanan tanaman jagung.

  • Pengamatan gejala serangan ulat grayak sejak dini

Monitoring serangan ulat grayak hendaknya dilakukan sejak tanaman berumur 1-2 minggu setelah tanam. Pada periode ini ngengat mulai meletakkan telur pada daun jagung yang masih muda. Lakukan pengamatan pada daun ke-1 sampai ke-3 dari pucuk, dimana kelompok telur biasa diletakkan. Jika menemukan kelompok telur, maka kelompok telur dikumpulkan dan dimusnahkan karena 1 kelompok telur rata-rata 100-200 butir. Jika tingkat parasitasi oleh parasitoid pada telur cukup tinggi maka kelompok telur dapat dimasukkan ke dalam bambu konservasi dengan demikian parasitoid akan tetap berkembang di lapangan. Telur akan menetas setelah 2-3 hari, lalu ulat akan berpencar dan memakan epidermis daun jagung yang masih muda.

Ulat grayak yang masih instar 1-2 akan sulit ditemukan di lapangan dikarenakan ukurannya yang sangat kecil yaitu kurang dari 5 mm. Cara yang tepat untuk mendeteksi keberadaan ulat grayak di pertanaman adalah dengan mengenal gejala serangannya. Oleh karena itu deteksi gejala awal ini akan menjadi penentu dalam kesuksesan pengendalian. Jika terlambat 1 minggu saja maka kerusakan tanaman sudah semakin berat. Keterlambatan mendeteksi gejala awal pada tanaman jagung ini akan membuat biaya pengendalian akan semakin besar.

  • Pengendalian yang tepat dan efektif.

Pengendalian yang sederhana dapat dilakukan oleh petani adalah Pengumpulan kelompok telur dan larva. Kegiatan ini baik dilakukan pada areal yang tidak terlalu luas karena untuk kawasan yang luas akan membutuhkan banyak tenaga kerja. Dalam keadaan tingkat serangan ulat grayak masih ringan maka dapat menggunakan agens pengendali hayati yang tersedia di lokasi seperti Metarhizium rileyi, Bacillus thuringiensis, dan SfNPV. Pestisida nabati dari mimba (Azadirachta indica) juga memiliki tingkat efikasi yang baik. Efektifitas agens pengendali hayati ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan seperti suhu dan kelembaban.

Pada saat tingkat serangan sudah tinggi atau tanaman terserang melebihi 30% dan banyak ditemukan ulat pada tanaman, maka ulat grayak harus segera kendalikan dengan menggunakan insektisida yang dianjurkan dan efektif. Ada beberapa bahan aktif insektisida yang disarankan yaitu emamektin benzoat, klorantraniliprol, spinetoram, tiomektosam dan siantraniliprol. Lakukan penyemprotan dengan tepat dan amati tingkat efektifitasnya pada 1-2 hari setelah diaplikasi. Aplikasi insektisida sangat tidak dianjurkan dilakukan pada saat tanaman sudah berbunga atau menghasilkan tongkol. Jika ditemukan serangan ulat grayak pada tongkol jagung maka tindakan pengendalian yang dapat dilakukan adalah penggunaan agens pengendali yang ramah lingkungan dan tidak berbahaya bagi aplikator. Pada umumnya, tingkat serangan ulat grayak di fase generatif tidak seberat pada fase vegetatif sehingga kesuksesan pengendalian di fase vegetatif akan dapat mengurangi tingkat serangan ulat grayak pada tongkol.(Willing Bagariang, SP, M.Si )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here