Lembang — Perakitan varietas unggul dari cabai terus dilakukan peneliti lingkup Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan). Tak hanya cabai yang tahan penyakit, tetapi juga sesuai dengan selera konsumen dengan ukuran tertentu dan seragam. Inovasi Iradiasi Sinar Gamma bisa menjadi salah satu caranya?

Dewasa ini keragaman  genetik dapat   dilakukan  secara inkonvensional, salah satunya melalui penggunaan mutagen fisik iradiasi sinar gamma. Telah banyak varietas mutan yang dilepas sebagai hasil iradiasi sinar gamma pada beberapa jenis tanaman, termasuk sayuran. 

Balai Penelitian Sayuran (Balitsa), Balitbangtan telah menggunakan iradiasi sinar gamma untuk program perakitan tanaman cabai merah dengan melakukan penyinaran benih lima varietas cabai merah pada beberapa dosis  sinar  gamma  (diinisiasi di tahun 2015). 

“Dosis letal untuk benih cabai berada pada kisaran 400–500 Gy. Pada kisaran dosis letal inilah terjadi keragaman genetik akibat perlakuan mutagen yang paling maksimum,” ungkap salah satu peneliti di Balitsa, Redy Gaswanto.

Lebih lanjut Redy menuturkan pada pemuliaan mutasi tanaman biasanya sudah mulai stabil pada generasi M2 (generasi kedua dari varietas yang dijadikan kontrol). Pada generasi tersebut juga muncul ekspresi fenotipe yang paling maksimal, sehingga pada generasi M2 merupakan yang ideal untuk dilakukan seleksi. 

Namun pada turunan kedua ini, sifat yang diwariskan dari tetuanya masih beragam (heritabilitas tinggi). Sehingga seleksi individu digunakan. 

Sedangkan pada generasi pertengahan (M3 hingga M5) terjadi kemungkinan heritabilitas mulai menurun, ukuran contoh menjadi semakin besar, dan simpangan dalam famili/ galur berbeda-beda untuk setiap famili/galur, sehingga seleksi kombinasi antar atau dalam famili bisa digunakan. 

Pemuliaan mutasi cabai melalui iradiasi sinar gamma di Balitsa telah masuk pada tahap generasi M6. Dimana, tingkat keseragaman semua karakter cenderung sudah cukup tinggi. 

Selera Konsumen

Dari hasil iradiasi sinar gamma yang dilakukan Balitsa didapatkan Galur M6-Lgg 27-13-22 yang merupakan hasil iradiasi dari benih cabai varietas Lingga. Galur ini memiliki buah matang yang berwarna kuning, padahal tetua asalnya sendiri memiliki buah matang berwarna merah.

Adapun jumlah buah per tanaman cukup lebat dan buahnya memiliki kandungan vitamin C yang cukup tinggi, yaitu: 115,61 mg/100 g, namun tingkat kepedasannya di bawah 300 ppm. Galur cabai ini cocok untuk bahan baku industri yang memerlukan kandungan vitamin C tinggi atau dijadikan sebagai tepung pewarna dalam masakan.

Galur kedua adalah Galur M6-Kcn 48-28-36 yang merupakan hasil iradiasi benih dari varietas Kencana. Namun penampilan bentuk dan ukuran buah dari galur cabai ini telah berbeda dari tetua asalnya yang langsing dan panjang.

Buah cabai dari galur ini memiliki diameter buah lebih besar dengan jumlah buah yang sama lebatnya seperti varietas Kencana. Namun tingkat kepedasan dan kadar vitamin C dari galur cabai ini dibawah 300 ppm dan 100 mg/100 g.

Galur M6-Lgg 55–18-42 merupakan hasil iradiasi benih varietas Lingga. Jumlah buahnya cukup lebat dengan bobot hasil sekitar 1,0  kg/tanaman. Penampilan bentuk dan ukuran buah dari galur cabai ini telah sesuai dengan preferensi konsumen, khususnya untuk kalangan ibu rumah tangga.

Galur lainnya adalah M6–Lmb –04- 01 yang merupakan hasil iradiasi benih varietas Lembang yang memiliki keunikan penampilan di mana beberapa tanamannya terindikasi mandul jantan karena tidak dapat berbuah dengan bentuk bunga yang tidak normal.

Penampilan tanaman tersebut membentuk roset dan pendek tumbuhnya. Galur ini punya potensi untuk dikembangkan tetua dalam perakitan varietas F-1 hibrida berbasis mandul jantan.

Tantangan Pengembangan

Diperlukan pemahaman teknik dan metode mutasi serta kecukupan materi benih yang akan diiradiasi, sehingga dapat meningkatkan peluang keberhasilan. Selain itu keberhasilan ditentukan juga oleh radiosensitivitas genotipe.

Tingkat sensitivitas tanaman sangat bervariasi antar jenis tanaman dan antar genotipe. Banyak pakar menyarankan tidak menggunakan mutagen dengan dosis melebihi LD50 karena akan mengakibatkan kerusakan fisiologis dan genetis pada tanaman.

Secara relatif ekspresi mutasi pada fenotipe tanaman cabai merah dapat menuju ke arah positif/negatif, bahkan kemungkinan mutasi yang terjadi dapat juga kembali ke bentuk semula (recovery). Mutasi yang mengarah  negatif  menyebabkan kematian, ketidaknormalan, sterilitas atau kerusakan fisiologis, sedangkan yang positif (terwariskan) ke generasi berikutnya merupakan mutasi yang dikehendaki.

Strategi pemerintah untuk meningkatkan produksi dan produktivitas cabai nasional di Indonesia mulai diarahkan pada pemanfaatan lahan di luar Pulau Jawa.

Namun tantangan yang dihadapi berupa cekaman biotik dan abiotik, dimana antraknos dan virus kuning masih merupakan penyakit utama yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas hasil. Selain itu, kekeringan, salinitas, kemasaman tanah merupakan masalah yang harus diatasi.

Untuk memenuhi semua tuntutan tersebut dibutuhkan varietas cabai yang sesuai yang diwujudkan dalam suatu program perakitan varietas. Kunci keberhasilan dari program tersebut adalah ketersediaan sumber gen yang dibutuhkan.

Harapannya, galur- galur cabai mutan Balitsa dari hasil seleksi mutasi positif dapat menjadi materi genetik untuk beberapa program perakitan varietas unggul baru (VUB) sesuai dengan tujuan, sehingga VUB yang dilepas dapat berkontribusi pada peningkatan produksi dan produktivitas cabai nasional (sumber : tabloidsinartani.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here